Jumat, 21 Agustus 2015

Cerpen Remaja-Cermin Rembulan (di Balik Dewi Malam)


Cermin Rembulan (di Balik Dewi Malam)

By: Achmad Mukhlasin

Awan yang tipis berbubuhan melayang – layang menampakkan gumpalan – gumpalan hitam berkelap-kelip disirami dengan cahaya dewi malam yang membiaskam kesejukan. Malam sunyi, malam yang sama seperti malam –malam  sebelumnya. Malam dimana aku meraatap dalam kesendirian hampa yang penuh dengan sesak aroma perpisahan yang akan aku hadapi esok.

            Ini adalah malam terakhirku tidur dirumah tercinta karena besok aku akan pergi ke dunia yang sangat berbeda dengan yang sedang aku pijaki malam ini. Pesantren. Aku terperanjat saat kulihat handphoneku yang ku letakkan di atas meja belajar sedang berdering dengan asyiknya sembari melantunkan nada pesan singkat (SMS) yang tak asing lagi di telingaku. Ternyata pesan itu dari Cila gadis berparas cantik nan bersahaja teman sekelasku semasa di SMP kemarin. Dia mengirim pesan

“ Semoga kamu bisa kerasan disana aku dan semua teman-teman disini akan selalu merindukanmu”

tanpa berpikir panjang, aku langsung membalas “ ya, semoga... cil, aku pengin nelfon kamu nih kamu lagi sibuk ngga?” “ ngga sih, silahkan aja” jawam cila.

Aku pun menelpon cila. Tut-tut-tut... begitulah nada yang terdengar dari sebrang lalu

“assalamu’alaikum” sapa seorang gadis.

 “ wa’alaikum salam,, ini aku cil ...” jawabku.

 “ bereani juga ya kamu nelpon cewe”

“ ya berani lah” tungkasku dengan nada yang agak sebal. “ aku mau ngomong sesuatu sama kamu,,”

“ya udah ngomong aja memangnya dari tadi kamu ngapain?” ejek cila kepadaku

“cil aku mau pamit,, besok pagi aku mau berangkat ke Jawa Timur. Ku diuruh ngelanjuitin sekolah di sana sekaligus nyantri di Pondok. Tolong pamitin sama teman-teman yang lain ya...” pintaku dengan penuh kesenduan.

“ mmmm ... ya, besok aku pamitin kepada teman-teman. Tapi ....”

“tapi kenapa cil...???”

“ kenapa harus nglanjutin jauh jauh sih,, kamu kan bisa sekolah di sini saja biar tetep bisa ketemu teman-teman” kata cila dengan sedih

“memang sih, tadinya aku juga maunya begitu. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi permintaan orang tua, aku ngga mau buat mereka sedih apalagi kecewa karena keegoisanku sendiri” jelas ku kepada cila

“tapi yang ter penting bukan itu..”

“lalu..??”

“kalau teman –teman disini rindu kepadamu bagaimana...” rintih cila

Sebenarnya aku sudah tahu dari gaya bicara cila yang seolah-olah berat sekali untuk melepasku, dengan caranya membujukku untuk sekolah disini dengan mengatas namakan teman-teman. Tetapi bukan itu bukan alasan terbesar cila karena sebenarnya cila lah yang paling berat jauh dariku. Selama tiga tahun bersama cila, ternyata cila menaruh perasaan terpendam yang ia simpan dengan rapih tanpa seorang pun mengetahuinya bahkan teman  dekatnya sekalipun. Tak terasa dalam hatiku pun merasakan hal yang sama seperti yang cila katakan. Rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumya karena baru kali ini aku merasa jatuh cinta kepada seorang gadis. Sekarang kegundahanku bertambah. Tetap maju untuk menempuh dunia yang baru, ataukan tetap diam ditempat dengan secerca rasa yang lama terpendam.

Malam itu aku lewatkan untuk saling berkirim pesan hati dengan cila lewat SMS. Aku juga mencoba untuk memberitahu cila jika aku juga mempunyai getaran hati yang sama dengan cila getaran yang tidak pernah aku sangka akan hadir ditengah – tengah kegundahan malam ini. Akupun meminta satu permintaan pada cila.

“ cil, jangan pernah lupakan kenangan –kenangan kita saat kita bareng-bareng yah.. itu adalah masa –masa terindah dalam hidupku. Aku akan selalu merindukanmu” pintaku.

Sejenak handphonku terdiam. Dalam penantianku kemudian ia berdering...

“besok kalau aku terlampau rindu dan ingin ketemu kamu bagaimana...??? kamu kan sudah jauh disana.” tanya cila.

Pertanyaan yang cukup sulit dan berat yang harus ku jawab.

Malam itu bumi Buyung tempat kelahiranku sedang bermandikan cahaya rembulan terang benderang.

            “ gampang kamu coba keluar cil, lihat cahaya terang dibelahan bumi timur.” Ajak-ku

Aku menunjukkan sebuah maha karya Tuhan yang berbinar-binar memancarkan cahaya kekuningan yang selalu menangkan kati dan jiwa ku.

            “ aku sudah keluar rumah, tapi ga ada apa-apa aku hanya melihat bulan.” Jawabnya

            Lalu aku menjawab. “ tataplah sang dewi malam itu disaat kamu merindukanku, tataplah remang cahaya yang terpancar olehnya. Rasakan keheningan yang bergejolak maka sepi sang rembulan akan melukiskan semua kehidupan yang kian jauh. Aku akan ada di balik itu.”

Cila bertanya kepadaku tentang isi pesanku yang sok puitis itu “ aku ga ngerti maksud kamu.”

            “ yang pasti saat bulan bersinar terang, disini akan merindumu juga..” jawabku singkat.

Dalam hatiku aku bergumam

“maksud ga maksud yang penting aku sudah memberinya solusi jikalau dia sedang merindukanku disini” memang sih kayanya agak kurang pas jika rindu harus melihat bulan biasanya kan lihat foto si dia , barang pemberiannya, atau mungkin menulis surat untuk sang belahan hati.”

“Ya kalu lagi ngepasin bulan bersinar terang. Nah, kalau lagi ga muncul atau lagi mendung bagaimana?” pertanyaan yang itulah yang dilontarkan cila kepadaku

Kemudian aku membals dengan satu pertanyaan yang cukup mengena di hatinya.

“Cil, kamu percaya dengan kesetiaan?”

“ ya percaya, memengnya kenapa?”

“ Saat bulan bersembunyi dibalik gerombolan awan hitam yang berjejeran erat seperti laskar perang yang kian tegap berdiri dengan gagahnya, disaat itulah rasa rinduku mendahului kata – kataku untuk mengatakan betapa rindunya diriku disini.”          Jawabku untuk menenangkan hati cila.

“ya, ya, ya.... eh, sudah malam nih... aku mau tidur dulu yah.. GOOD NIGHT ,, YOU WILL ETHERNAL IN MY HEART FOREVER.”

Kata-kata terakhir itulah yang membuatku benar-benar tenggelam dalam rasa cinta yang selama ini aku rasakan. Ini adalah tahun ketigaku di pesaantren. Aku masih ingat malam perpisahanku dengan cila. Aku tidak tahu apakah disebrang rembulan sana dia masih tetap dengan kata-katanya sesuai dengan malam perpisahan tiga tahun yang lalu untuk selalu menantikan kepulanganku ataukan sudah berpindah ke rembulan yang lain.

Cerpen Remaja-Honey


Honey

23 Mei 2015

Sebuah kisah membiaskan rasa dalam bungkusan keindahan sebagai seberkas pancaran dari surga Sang Maha Kuasa. Masa saat SMP dimana rasa penasaran membumbung bagaikan layang-layang yang tidak mempunyai beban, bebas melayang melihat luas dunia. Saat itulah aku berkenalan dengan indahnya kehidupan yang dihiasi oleh seorang kekasih.

Entah apa yang aku rasakan pada waktu itu rasa damai yang selalu menyelimuti suasana hati saat aku melihat paras cantik berbaluk hijab pink yang selalu terlintas dalam pikiranku dikala aku duduk termenung ditemani berkas cahaya bulan purna. Honey, itulah hal yang paling ku ingat dari dirinya. Sosok yang redup dan riang bersahaja.

Waktu itu aku duduk di kelas 8 saat diriku mencoba memberanikan diri untuk tampil dalam ajang pemilihan ketua OSIS. Aku dan honey ikut mencalonkan diri sebagai calon ketua OSIS dan akhirnya aku terpilih menjadi ketua OSIS dan Honey menjadi wakil ketua OSIS. Hampir setiap ada kegiatan atau even-even perlombaan aku dan honey selalu terlibat karena . Dari situlah timbul benih-benih asamara yang kian hari kian membara. Pepatah Jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino (awal dari rasa cinta berasal dari sering).

Sebagai seorang laki-laki aku termasuk pemalu apalagi kalau berurusan dengan perempuan. Maklumlah dengan semua keterbatasan yang aku punya. Namun aku tidak terlalu ambil pusing karena nyatanya aku bisa menjadi ketua OSIS.

Honey adalah sebuah gadis impian. Kecantikan dan kerendahan hatinyalah yang membuat dia banyak digandrungi oleh banyak laki-laki dan disenangi oleh teman-teman. Tetapi yang membuat aku tidak bisa lupa darinya adalah sikap lembut, manja, romantis, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga. Dan yang paling membuatku kaget adalah ternyata usianya lebih tua darinya memang lucu harusnya aku yang memanggilnya dengan sebutan Mba atau setidaknya kakak tapi malih kebalikannya akulah yang dipanggil dengan panggilan kakak. Aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan usia diantara kita.

Sejak awal aku belum tahu menau denggan urusan pacaran sampai aku bertemu dengan Honey. Ia mengajarkanku apa itu kedewasaan, setia, pengertian, dan perhatian kepada orang. Kian hari hubunganku dengan Honey semakin dekat hingga tiba ujian akhir sekolah.

Setelah lulus SMP aku melanjutkan ke sebuah SMA di luar kota sedangkan Honey memilih berhenti sekolah dan ia memilih untuk bekerja di Bandung. Malam itu, sebelum Honey bertandang ke Banduung adalah malam terberat dalam hidupku untuk melepas seorang kekasih yang menjadi tumpuhan hati.

Meskipun aku dan Honey di pisahhkan dengan jarak yang cukup jauh, namun aku selalu berkomunikasi lewat SMS maupun Facebook. Hanya bisa tersenyum dan membayangkan masa-masa di mana aku dan Honey bersama-sama dulu. Aku selalu rutih memberi kabar kepada Honey tentang kabarku di sekolah. Pada suatu hari ada kabar yang membuatku cukup bahagia, Honey akan sekolah di kota yang sama denganku tahun ajaran baru besok. Walaupun beda sekolah aku sudah bahagia karena setidaknya aku masih bisa bertemua dengannya.

Tahun demi tahun berganti dan saat ini aku duduk di kelas 3 SMA. Masa penentuan karena tahun ini aku akan untuk bertempur melawan Ujian Nasional dan ujian akhir Sekolah. Tiga bulan sebelum pelaksanaan ujian nasional, aku bertemu dengan Honey kalau tidak salah waktu itu tanggal 29 Desember aku memberanikan diri untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Pedih memamng pedih rasa sayang dalam dada ini sama sekali tidak berkurang sedikitpun dari pertama aku bertemu dengan hingga kini namun apa daya kedua orang tua memintaku untuk fokus dengan sekolahku terlebih dahulu. Sebuah keputusan yang tidak pernah aku banyangkan sebelumnnya. PUTUS.

Saat ini aku menempuh pendidikan di sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Sudah lam aku tidak berjumpa dengan Honey terakhir kali aku mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki pacara lagi dan lebih sempurna dariku karena dia sudah bekerja dan dalam bebrapa bulan kedepan Honey akan bertunangan dengan pacarnya.

Hanya do’a yang dapat aku lantunkan untuk Honey agar ia bahagia dan tak akan meneteskan air matanya lagi karena sakit hati. Kini aku sadari bahwa rasa sayang itu tidak selalu harus berdampingan dengan sang pujaan hati cukup mendengar dan melihatnya bahagia dan tertawa dengan orang lain.



Bersambung....