Cermin Rembulan (di Balik Dewi Malam)
By: Achmad Mukhlasin
Awan
yang tipis berbubuhan melayang – layang menampakkan gumpalan – gumpalan hitam
berkelap-kelip disirami dengan cahaya dewi malam yang membiaskam kesejukan.
Malam sunyi, malam yang sama seperti malam –malam sebelumnya. Malam dimana aku meraatap dalam
kesendirian hampa yang penuh dengan sesak aroma perpisahan yang akan aku hadapi
esok.
Ini adalah malam terakhirku tidur
dirumah tercinta karena besok aku akan pergi ke dunia yang sangat berbeda dengan
yang sedang aku pijaki malam ini. Pesantren. Aku terperanjat saat kulihat
handphoneku yang ku letakkan di atas meja belajar sedang berdering dengan
asyiknya sembari melantunkan nada pesan singkat (SMS) yang tak asing lagi di
telingaku. Ternyata pesan itu dari Cila gadis berparas cantik nan bersahaja
teman sekelasku semasa di SMP kemarin. Dia mengirim pesan
“ Semoga kamu bisa kerasan disana aku dan
semua teman-teman disini akan selalu merindukanmu”
tanpa
berpikir panjang, aku langsung membalas “ ya, semoga... cil, aku pengin nelfon
kamu nih kamu lagi sibuk ngga?” “ ngga sih, silahkan aja” jawam cila.
Aku
pun menelpon cila. Tut-tut-tut... begitulah nada yang terdengar dari sebrang
lalu
“assalamu’alaikum”
sapa seorang gadis.
“ wa’alaikum salam,, ini aku cil ...” jawabku.
“ bereani juga ya kamu nelpon cewe”
“
ya berani lah” tungkasku dengan nada yang agak sebal. “ aku mau ngomong sesuatu
sama kamu,,”
“ya
udah ngomong aja memangnya dari tadi kamu ngapain?” ejek cila kepadaku
“cil
aku mau pamit,, besok pagi aku mau berangkat ke Jawa Timur. Ku diuruh
ngelanjuitin sekolah di sana sekaligus nyantri di Pondok. Tolong pamitin sama
teman-teman yang lain ya...” pintaku dengan penuh kesenduan.
“
mmmm ... ya, besok aku pamitin kepada teman-teman. Tapi ....”
“tapi
kenapa cil...???”
“
kenapa harus nglanjutin jauh jauh sih,, kamu kan bisa sekolah di sini saja biar
tetep bisa ketemu teman-teman” kata cila dengan sedih
“memang
sih, tadinya aku juga maunya begitu. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi
permintaan orang tua, aku ngga mau buat mereka sedih apalagi kecewa karena
keegoisanku sendiri” jelas ku kepada cila
“tapi
yang ter penting bukan itu..”
“lalu..??”
“kalau
teman –teman disini rindu kepadamu bagaimana...” rintih cila
Sebenarnya
aku sudah tahu dari gaya bicara cila yang seolah-olah berat sekali untuk
melepasku, dengan caranya membujukku untuk sekolah disini dengan mengatas
namakan teman-teman. Tetapi bukan itu bukan alasan terbesar cila karena
sebenarnya cila lah yang paling berat jauh dariku. Selama tiga tahun bersama
cila, ternyata cila menaruh perasaan terpendam yang ia simpan dengan rapih
tanpa seorang pun mengetahuinya bahkan teman
dekatnya sekalipun. Tak terasa dalam hatiku pun merasakan hal yang sama
seperti yang cila katakan. Rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumya karena
baru kali ini aku merasa jatuh cinta kepada seorang gadis. Sekarang
kegundahanku bertambah. Tetap maju untuk menempuh dunia yang baru, ataukan
tetap diam ditempat dengan secerca rasa yang lama terpendam.
Malam
itu aku lewatkan untuk saling berkirim pesan hati dengan cila lewat SMS. Aku
juga mencoba untuk memberitahu cila jika aku juga mempunyai getaran hati yang
sama dengan cila getaran yang tidak pernah aku sangka akan hadir ditengah –
tengah kegundahan malam ini. Akupun meminta satu permintaan pada cila.
“
cil, jangan pernah lupakan kenangan –kenangan kita saat kita bareng-bareng
yah.. itu adalah masa –masa terindah dalam hidupku. Aku akan selalu
merindukanmu” pintaku.
Sejenak
handphonku terdiam. Dalam penantianku kemudian ia berdering...
“besok
kalau aku terlampau rindu dan ingin ketemu kamu bagaimana...??? kamu kan sudah
jauh disana.” tanya cila.
Pertanyaan
yang cukup sulit dan berat yang harus ku jawab.
Malam
itu bumi Buyung tempat kelahiranku sedang bermandikan cahaya rembulan terang
benderang.
“ gampang kamu coba keluar cil,
lihat cahaya terang dibelahan bumi timur.” Ajak-ku
Aku
menunjukkan sebuah maha karya Tuhan yang berbinar-binar memancarkan cahaya
kekuningan yang selalu menangkan kati dan jiwa ku.
“ aku sudah keluar rumah, tapi ga
ada apa-apa aku hanya melihat bulan.” Jawabnya
Lalu aku menjawab. “ tataplah sang
dewi malam itu disaat kamu merindukanku, tataplah remang cahaya yang terpancar
olehnya. Rasakan keheningan yang bergejolak maka sepi sang rembulan akan melukiskan
semua kehidupan yang kian jauh. Aku akan ada di balik itu.”
Cila
bertanya kepadaku tentang isi pesanku yang sok puitis itu “ aku ga ngerti
maksud kamu.”
“ yang pasti saat bulan bersinar
terang, disini akan merindumu juga..” jawabku singkat.
Dalam
hatiku aku bergumam
“maksud
ga maksud yang penting aku sudah memberinya solusi jikalau dia sedang
merindukanku disini” memang sih kayanya agak kurang pas jika rindu harus
melihat bulan biasanya kan lihat foto si dia , barang pemberiannya, atau
mungkin menulis surat untuk sang belahan hati.”
“Ya
kalu lagi ngepasin bulan bersinar terang. Nah, kalau lagi ga muncul atau lagi
mendung bagaimana?” pertanyaan yang itulah yang dilontarkan cila kepadaku
Kemudian
aku membals dengan satu pertanyaan yang cukup mengena di hatinya.
“Cil,
kamu percaya dengan kesetiaan?”
“
ya percaya, memengnya kenapa?”
“
Saat bulan bersembunyi dibalik gerombolan awan hitam yang berjejeran erat
seperti laskar perang yang kian tegap berdiri dengan gagahnya, disaat itulah
rasa rinduku mendahului kata – kataku untuk mengatakan betapa rindunya diriku
disini.” Jawabku untuk
menenangkan hati cila.
“ya,
ya, ya.... eh, sudah malam nih... aku mau tidur dulu yah.. GOOD NIGHT ,, YOU
WILL ETHERNAL IN MY HEART FOREVER.”
Kata-kata
terakhir itulah yang membuatku benar-benar tenggelam dalam rasa cinta yang
selama ini aku rasakan. Ini adalah tahun ketigaku di pesaantren. Aku masih
ingat malam perpisahanku dengan cila. Aku tidak tahu apakah disebrang rembulan
sana dia masih tetap dengan kata-katanya sesuai dengan malam perpisahan tiga
tahun yang lalu untuk selalu menantikan kepulanganku ataukan sudah berpindah ke
rembulan yang lain.