Honey
23 Mei 2015
Sebuah kisah membiaskan rasa dalam bungkusan keindahan sebagai
seberkas pancaran dari surga Sang Maha Kuasa. Masa saat SMP dimana rasa
penasaran membumbung bagaikan layang-layang yang tidak mempunyai beban, bebas
melayang melihat luas dunia. Saat itulah aku berkenalan dengan indahnya kehidupan
yang dihiasi oleh seorang kekasih.
Entah apa yang aku rasakan pada waktu itu rasa damai yang selalu
menyelimuti suasana hati saat aku melihat paras cantik berbaluk hijab pink yang
selalu terlintas dalam pikiranku dikala aku duduk termenung ditemani berkas
cahaya bulan purna. Honey, itulah hal yang paling ku ingat dari dirinya. Sosok
yang redup dan riang bersahaja.
Waktu itu aku duduk di kelas 8 saat diriku mencoba memberanikan
diri untuk tampil dalam ajang pemilihan ketua OSIS. Aku dan honey ikut
mencalonkan diri sebagai calon ketua OSIS dan akhirnya aku terpilih menjadi
ketua OSIS dan Honey menjadi wakil ketua OSIS. Hampir setiap ada kegiatan atau
even-even perlombaan aku dan honey selalu terlibat karena . Dari situlah timbul
benih-benih asamara yang kian hari kian membara. Pepatah Jawa mengatakan witing
tresno jalaran soko kulino (awal dari rasa cinta berasal dari sering).
Sebagai seorang laki-laki aku termasuk pemalu apalagi kalau
berurusan dengan perempuan. Maklumlah dengan semua keterbatasan yang aku punya.
Namun aku tidak terlalu ambil pusing karena nyatanya aku bisa menjadi ketua
OSIS.
Honey adalah sebuah gadis impian. Kecantikan dan kerendahan
hatinyalah yang membuat dia banyak digandrungi oleh banyak laki-laki dan
disenangi oleh teman-teman. Tetapi yang membuat aku tidak bisa lupa darinya
adalah sikap lembut, manja, romantis, dan penuh dengan kejutan yang tak
terduga. Dan yang paling membuatku kaget adalah ternyata usianya lebih tua
darinya memang lucu harusnya aku yang memanggilnya dengan sebutan Mba atau
setidaknya kakak tapi malih kebalikannya akulah yang dipanggil dengan panggilan
kakak. Aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan usia diantara kita.
Sejak awal aku belum tahu menau denggan urusan pacaran sampai aku
bertemu dengan Honey. Ia mengajarkanku apa itu kedewasaan, setia,
pengertian, dan perhatian kepada orang. Kian hari hubunganku dengan Honey semakin
dekat hingga tiba ujian akhir sekolah.
Setelah lulus SMP aku melanjutkan ke sebuah SMA di luar kota
sedangkan Honey memilih berhenti sekolah dan ia memilih untuk bekerja di
Bandung. Malam itu, sebelum Honey bertandang ke Banduung adalah malam
terberat dalam hidupku untuk melepas seorang kekasih yang menjadi tumpuhan hati.
Meskipun aku dan Honey di pisahhkan dengan jarak yang cukup
jauh, namun aku selalu berkomunikasi lewat SMS maupun Facebook. Hanya bisa
tersenyum dan membayangkan masa-masa di mana aku dan Honey bersama-sama
dulu. Aku selalu rutih memberi kabar kepada Honey tentang kabarku di
sekolah. Pada suatu hari ada kabar yang membuatku cukup bahagia, Honey
akan sekolah di kota yang sama denganku tahun ajaran baru besok. Walaupun beda
sekolah aku sudah bahagia karena setidaknya aku masih bisa bertemua dengannya.
Tahun demi tahun berganti dan saat ini aku duduk di kelas 3 SMA.
Masa penentuan karena tahun ini aku akan untuk bertempur melawan Ujian Nasional
dan ujian akhir Sekolah. Tiga bulan sebelum pelaksanaan ujian nasional, aku
bertemu dengan Honey kalau tidak salah waktu itu tanggal 29 Desember aku
memberanikan diri untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Pedih memamng pedih
rasa sayang dalam dada ini sama sekali tidak berkurang sedikitpun dari pertama
aku bertemu dengan hingga kini namun apa daya kedua orang tua memintaku untuk
fokus dengan sekolahku terlebih dahulu. Sebuah keputusan yang tidak pernah aku
banyangkan sebelumnnya. PUTUS.
Saat ini aku menempuh pendidikan di sebuah Universitas Negeri di
Yogyakarta. Sudah lam aku tidak berjumpa dengan Honey terakhir kali aku
mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki pacara lagi dan lebih sempurna dariku
karena dia sudah bekerja dan dalam bebrapa bulan kedepan Honey akan
bertunangan dengan pacarnya.
Hanya do’a yang dapat aku lantunkan untuk Honey agar ia
bahagia dan tak akan meneteskan air matanya lagi karena sakit hati. Kini aku
sadari bahwa rasa sayang itu tidak selalu harus berdampingan dengan sang pujaan
hati cukup mendengar dan melihatnya bahagia dan tertawa dengan orang lain.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar