Senin, 28 September 2015

Puisi_Picik-Ku



Picikku

Gemerincik dunia remaja atau tepatnya dewasa
Sesuatu yang dulu tabu dalam benak seekor kutu
Berbaring di atas kenikmatan
Yang entah dari mana kenikmatan

Terkadang terlalu naïf untuk mengaku
Helaian penutup dari selendang syar’i
Luntur oleh gumulan kerbau insani
Kini saatnya berucap akan sebuah takdir
atau bahkan uluran tangan dari Tuhan

Tenanglah dalam pergolakan
Persatuan satu badan tanpa pengait
Tebasan dalm lamunan,
telanjang akan rasa gemuruh ketegangan
di atas pemanas

Asinkah air garam yang menetes
dari peluh pengharapan
alaaahh… persetan atau bajingan bangkai hidup ini
Terucap dari mulut yang bisu akan suara.

Batasan dari apa yang dinamakan norma
amoral menjadi nisa
Bergulat dalam sempitnya ruang tahunan
Lendir kunang, nikmat, kian terkenang


`                                                                                                                       26-09-2015

Puisi-Sabar



Sabar
Oleh: Achmad Mukhlasin
Berlatih kata sabar seperti menarik bangkai kapal
Sulit pasti dirasa badan
Namun jangan pernah melepaskan tangan mengepal
Hingga semua buah berubah jadi keindahan

Pahit dalam rasa sepahit sari empedu
Kata luhur menanti di ujung pintu
Kekalahan tak selamanya haru
Ada saatnya itu semua yang dirindu

Jangan pernah kau acungkan jarimu pada-Nya
Karena awal dari segala pemantik dari sana
Terkadang insan lupa
Siapa yang kuasa

Puisi-Kebutuhan Rasa



Kebutuhan Rasa


Getaran gemuruh dalam dada tak dapat dibohongi
Kala dekapan sosok yang membawa cahaya kian datang
Sumbar dalam pandangan namun cenderung diam dalam gelap
Rasa yang tak mampu terpendam oleh rajah prasasti diri
Kian luluh dengan Kebersamaan

Apakah salah jika memang rasa dibiarkan tumbuh namun  tidak pada pot semestinya?
Pantaskah sebuah rasa hidup tanpa pupuk dan membiarkannya mati kering
Entah apa yang dapat diperbuat dalam tendensi kebutuhan

Kadang, membiarkan ia tumbuh di tanah bebas memang lebih bijaksana
Tapi apakah ada jaminan tanpa keterlibatan serta kesengajaan bias disebut sebagai kewajaran
Bukan setan yang melakukan sebuah kebejakan otak nista namun nafsu akan dunia yang menyebabkan setan menjadi korban akan nafsu angkara




                                                                                                23/09/20115

Puisi-Tuhan



Tuhan


Tuhan... kuyakin engkau selalu terjaga
Apa yang ada tak akan luput dari mata
Setitik ciptaan pasti hidup dengan rizki-Mu
Sampai lingkaran kehidupan selalu tersenyum

Tuhan... ku tengadahkan tangan di hadapan-Mu
Dalam ratapan ini aku berserah kepadamu
Ku yakin Tuhan, perut ini tidak sampai merintih
Dan ku yakin peluh ini terbayar sebelum lumpuh

Sebagai makhluk-Mu aku berjalan seraya meminta
Wahai Tuhan-Ku, turunkanlah setetes air surga
Impian mulia akan menjadi realita
Dengan doa ku mulai menata





Puisi-Tanpa Bulu



Tanpa Bulu

Dia memandang betis-betis
Nian jenjang kokoh tiang Negara
Tinggi semampai tegak membubuh sampai lintang
Mata yang tak hentinya menatap
Ini berkah atau ujian?

Perbedaan dalam kultur yang membigungkan
Antara Timur dan Barat
Sepintas hanya terpisah oleh ketololan

Lolongan anjing manusia,
Meneteskan liur binal kehausan
Maju atau mundur, pelor atau palu mungkin berguna

Ah… lama ia berjalan tanpa bulu di tubuhnya
Bangga akan cacat yang tersembunyi
Patutkah mulut mengutuk atau mati
diam oleh lumut

                                                                                    Kamar Nissa,26 September 2015