Sabtu, 19 September 2015

Puisi-Malam

Malam

Entah sudah berapa purnama ku lalui
Hitam kelam tanpa cahaya
Terasa dimanjakan oleh derap angin
Kian datang laksana satu barikade tentara

Senyap senyap ku dengar rintih dinding derita
Dari anak yang merengek meminta tas baru
“bapak belum pegang uang nak,,,”
Rintih sosok berkulit kusam nan kriput
Hanya itu yang di dapat dari setiap
Rengekan rengekan yang selalu dilontarkan

Adilkah negeri ini di saat yang empunya kuasa
Melenggang dengan penuh angkuhnya
Hanya melambai tangan..(dadah)

Adilkah negeri ini disaat yang dibawah merauh
Sembari menahan cacing cacing dalam perut
Yang kian mengganas tapi mereka malam sesuka hati
Berteriak teriak sambil sok kuasa membanting peluh jelata

Terkutuk mulut busuk dalam buih setan berbaluk selendang sutra
Masih terdengar gebrakan Indonesia Hebat. Indonesia Hebat,
Realiati berkata Indonesia sekarat.

Tak cukup hanya ungkapan bajingan dan keparat yang tercerca
Bagi mereka yang tertawa diatas pungguhang calon punggawa garuda
Ha...ha.. ratap anak jelata di bumi pertiwi yang merdeka
Namun bersuami orang gila...


                                                                                    Atap Cahaya-Malam Purnama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar