Malam
Entah sudah
berapa purnama ku lalui
Hitam kelam
tanpa cahaya
Terasa
dimanjakan oleh derap angin
Kian datang
laksana satu barikade tentara
Senyap senyap
ku dengar rintih dinding derita
Dari anak yang
merengek meminta tas baru
“bapak belum
pegang uang nak,,,”
Rintih sosok
berkulit kusam nan kriput
Hanya itu yang
di dapat dari setiap
Rengekan
rengekan yang selalu dilontarkan
Adilkah negeri
ini di saat yang empunya kuasa
Melenggang
dengan penuh angkuhnya
Hanya melambai
tangan..(dadah)
Adilkah negeri
ini disaat yang dibawah merauh
Sembari menahan
cacing cacing dalam perut
Yang kian
mengganas tapi mereka malam sesuka hati
Berteriak
teriak sambil sok kuasa membanting peluh jelata
Terkutuk mulut
busuk dalam buih setan berbaluk selendang sutra
Masih terdengar
gebrakan Indonesia Hebat. Indonesia Hebat,
Realiati
berkata Indonesia sekarat.
Tak cukup hanya
ungkapan bajingan dan keparat yang tercerca
Bagi mereka
yang tertawa diatas pungguhang calon punggawa garuda
Ha...ha.. ratap
anak jelata di bumi pertiwi yang merdeka
Atap
Cahaya-Malam Purnama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar