Picikku
Gemerincik dunia remaja
atau tepatnya dewasa
Sesuatu yang dulu tabu
dalam benak seekor kutu
Berbaring di atas
kenikmatan
Yang entah dari mana
kenikmatan
Terkadang terlalu naïf
untuk mengaku
Helaian penutup dari
selendang syar’i
Luntur oleh gumulan
kerbau insani
Kini saatnya berucap
akan sebuah takdir
atau bahkan uluran
tangan dari Tuhan
Tenanglah dalam
pergolakan
Persatuan satu badan
tanpa pengait
Tebasan dalm lamunan,
telanjang akan rasa
gemuruh ketegangan
di atas pemanas
Asinkah air garam yang
menetes
dari peluh pengharapan
alaaahh… persetan atau
bajingan bangkai hidup ini
Terucap dari mulut yang
bisu akan suara.
Batasan dari apa yang
dinamakan norma
amoral menjadi nisa
Bergulat dalam sempitnya
ruang tahunan
Lendir kunang, nikmat,
kian terkenang
` 26-09-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar