Putri
Ayu
Seberkas
biasan wajah itu tengah berdiri
Diam
dan termanggu pada sosok ayu
Dentingan
senyum menawan melantunkan symphoni
Hanyut
kedalam rasa yang dianggap baru
Berasal
dari rasa tidak tahu lalu menjalar
Menjelma
menjadi keinginan yang erat
Hari
suram tidak mampu membendung nalar
Kelas
putri konglomerat
Sayang
keinginan hanya sebatas kagum
Debar
dada karena denyut yang terus berdentum
Iri
hati akan beruntungnya putra raja
Hidup
cukup dalam dunia yang nestapa
Dirasa
cukup sebatas indrawi saja
Menatap,
melihat, mendengar, dan menulis kata ceria
Sudah
lebih dari permata dunia
Mengagumi
tanpa terlukis oleh raga
Harap
dan doa beriringan bersama-sama
Menanti
dinda pujaan dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar