Sabtu, 19 September 2015

Coretan-Pena Hampa


Mewakili kesendirianku. Ku duduk bersama sebuah pena ditemani seonggok asap penenang. Dendam. Kata benci dalam kesunyian dan  kegelisahan. Sebuah pena kurengkuh.
Kata-kata yang tak pantas terucap, hujatan, makian, serta cercaan. Bukan sebuah pujian makian, dan hinaan. Pena warna darah riang dalam benak. Bukan sebuah pujian atas apa yang kau sebut rupa.
Berat pena melaju kan ku toreh sebuah kata di dalam hitam puisi-ku ku tunggu kematianmu atau aku.
Bukanlah Tuhan yang dapat mematikan, bukan pula bangsawan yang rela dengan suka cita dengan keringat penindasan. Lewat pena ku torehkan kata demi kata hujatan. Penuh sesak dalam alam bawah sadar oleh gemerlap kerlip bintang dan sinar rembulan yang pernah menjadi pujaan.
Namun tersadar, bayangmu tak akan hilang saat ku usap dalam hatii dengan peluh dan air mata. Sangat terasa dalam hati luka yang pernah kau hujamkan serta kenangan yang sangat mengguncang.
Akankah aku mampu melewati sepiku padanya. Harapan hampa yang dirasakan. Dahulu dalam kebodohan sempat berpikir akan memiliki secerca udara yang bisa ku hirup namun dalam kekecewaan aku tersadar bahwa hamapa itu kosong sekosong hati ini.
Begitu berat mulut ini mengatakan kata yang ingin ku katakan namun aku coba tegar hadapi kenyataan tapi ketahuilah tangan ini masih erat untuk menggenggam pena. Pena kematian.

Akankah kulewati semua sepiku padanya. Harapan hampa yang kurasakan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar