Mewakili
kesendirianku. Ku duduk bersama sebuah pena ditemani seonggok asap penenang.
Dendam. Kata benci dalam kesunyian dan
kegelisahan. Sebuah pena kurengkuh.
Kata-kata yang
tak pantas terucap, hujatan, makian, serta cercaan. Bukan sebuah pujian makian,
dan hinaan. Pena warna darah riang dalam benak. Bukan sebuah pujian atas apa
yang kau sebut rupa.
Berat pena
melaju kan ku toreh sebuah kata di dalam hitam puisi-ku ku tunggu kematianmu
atau aku.
Bukanlah Tuhan
yang dapat mematikan, bukan pula bangsawan yang rela dengan suka cita dengan
keringat penindasan. Lewat pena ku torehkan kata demi kata hujatan. Penuh sesak
dalam alam bawah sadar oleh gemerlap kerlip bintang dan sinar rembulan yang
pernah menjadi pujaan.
Namun tersadar,
bayangmu tak akan hilang saat ku usap dalam hatii dengan peluh dan air mata.
Sangat terasa dalam hati luka yang pernah kau hujamkan serta kenangan yang
sangat mengguncang.
Akankah aku
mampu melewati sepiku padanya. Harapan hampa yang dirasakan. Dahulu dalam
kebodohan sempat berpikir akan memiliki secerca udara yang bisa ku hirup namun
dalam kekecewaan aku tersadar bahwa hamapa itu kosong sekosong hati ini.
Begitu berat
mulut ini mengatakan kata yang ingin ku katakan namun aku coba tegar hadapi
kenyataan tapi ketahuilah tangan ini masih erat untuk menggenggam pena. Pena
kematian.
Akankah kulewati
semua sepiku padanya. Harapan hampa yang kurasakan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar