Sabtu, 19 September 2015

Coretan-Kemana?

Kemana?
Bilik kamar kedamaian 14 Okt 2014
Ku telusuri jalan yang asing bagiku melangkah gontai diterpa angin pengetahuan. Berjalan dan berjalan tidak peduli tempat untuk menyandarkan punggung ini. Menunggu dan terus menunggu datangnya payung yang akan menaungi. Terasa dingin udara jalan kota merasuk dalam sumsum rumahan yang belum pernah keluar dari kandang. Malam semakin larut saat kunanti seberkas kabar basi itu. Langkahnya santai namun pasti mendekat dan mendekat dengan satu kali tepuk aku mengikuti.
Aneh, bingung, dan setengah belum menerima akan sebuah kenyataan. Malam ku lalui dengan dentingan jarum jam dinding yang menempel tepat di atasku berbaring. Satu demi satu kurangkai asa yang masih tersisa setelah seharian berjalan. Kurajut sebuah cita-cita dalam tiap-tiap sulaman itu. Kurekatkan dengan penuh hati lipat demi lipat doa.
Fajar membangunkanku dengan rayuan indah sang muadzin di masjid seberang. Ku buka mata ini dan tersadar ini bukan rumah yang biasa aku jadikan tempat berkeluh dan bergembira. Mau tidak mau kutegakkan badan lungkrah ini dengan sedikit sisa semangat semalam. Kuambil air wudlu nan dingin sedingin es. Kulangkahkan kakiku menuju masjid. Gemerisik angin yang menerpa daun-daun bambu amenambah syahdu pagi itu.
Dengan tekad membara kuteriakkan. Aku anak sukses. Akan ku kalahkan semua pesaing-pesaingku yang dengan suka rela menyerahkan hatinya untuk menghalauku. Namun jangan terlalu senang kawan, lihatlah masyarak tertindas dan terpinggirkan dari kaum kaum yang kau anggap hina. Kami bersatu kami padu dalam sebuah impian yang dituju. Guru.
Apakah yang kau katakan saat orang tertindas meraung mendendangkan suaranya. Kami salah atau kau yang buta. Buta akan pujian dan arogansi diri yang mati akan nurani, mati akan hati murni yang jauh dari iri. Ku angkat tangan tinggi tinggi ku kepalkan erat semangat ini dilanjut dengan lantunan suara perjuangan dan pengorbanan. Pangung parodi disiapkan dengan sedemikian rupa. Cemooh dan celoteh manusia kolot mulai menggema.

Matahari terasa berlari diatas semua yang kulalui sehari. Tenaga yang terfosir untuk perlawanan kusimpan baik dalam hati yang damai. Besok masih ada hari yang lebiih dijanjikan. Rencana belum terlintas dalam fikir ini. Berdoa dan mengiba adalah oabat dari segala penyakit duniawi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar