Kemana?
Ku telusuri jalan yang asing bagiku melangkah gontai diterpa angin
pengetahuan. Berjalan dan berjalan tidak peduli tempat untuk menyandarkan
punggung ini. Menunggu dan terus menunggu datangnya payung yang akan menaungi.
Terasa dingin udara jalan kota merasuk dalam sumsum rumahan yang belum pernah
keluar dari kandang. Malam semakin larut saat kunanti seberkas kabar basi itu.
Langkahnya santai namun pasti mendekat dan mendekat dengan satu kali tepuk aku
mengikuti.
Aneh, bingung, dan setengah belum menerima akan sebuah kenyataan.
Malam ku lalui dengan dentingan jarum jam dinding yang menempel tepat di atasku
berbaring. Satu demi satu kurangkai asa yang masih tersisa setelah seharian
berjalan. Kurajut sebuah cita-cita dalam tiap-tiap sulaman itu. Kurekatkan
dengan penuh hati lipat demi lipat doa.
Fajar membangunkanku dengan rayuan indah sang muadzin di masjid
seberang. Ku buka mata ini dan tersadar ini bukan rumah yang biasa aku jadikan
tempat berkeluh dan bergembira. Mau tidak mau kutegakkan badan lungkrah ini
dengan sedikit sisa semangat semalam. Kuambil air wudlu nan dingin sedingin es.
Kulangkahkan kakiku menuju masjid. Gemerisik angin yang menerpa daun-daun bambu
amenambah syahdu pagi itu.
Dengan tekad membara
kuteriakkan. Aku anak sukses. Akan ku kalahkan semua pesaing-pesaingku yang
dengan suka
rela menyerahkan hatinya untuk menghalauku. Namun jangan terlalu senang kawan,
lihatlah masyarak tertindas dan terpinggirkan dari kaum kaum yang kau anggap
hina. Kami bersatu kami padu dalam sebuah impian yang dituju. Guru.
Apakah yang kau katakan saat orang tertindas meraung mendendangkan
suaranya. Kami salah atau kau yang
buta. Buta akan pujian dan arogansi diri yang mati akan nurani, mati akan hati
murni yang jauh dari iri. Ku angkat tangan tinggi tinggi ku kepalkan erat
semangat ini dilanjut dengan lantunan suara perjuangan dan pengorbanan. Pangung
parodi disiapkan dengan sedemikian rupa. Cemooh dan celoteh manusia kolot mulai
menggema.
Matahari terasa berlari diatas semua yang kulalui sehari. Tenaga
yang terfosir untuk perlawanan kusimpan baik dalam hati yang damai. Besok masih
ada hari yang lebiih dijanjikan. Rencana belum terlintas dalam fikir ini.
Berdoa dan mengiba adalah oabat dari
segala penyakit duniawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar