Sudut impian 3x3
Harum udara
kamar yang pengap dalam bilik tembok tahun tujuh puluhan
Warna oklat tua
menjadi pandangan penyambung asa
Dinding yang terlihat
keriput dan mulai renta menambah sesak
Janji penghuni
nirwana
Terkadang mulut
para peri lebih manis dari biang gula
Berbicara
masalah kesejahteraan dengan dana dari keringat yang kami kucurkan
Bohong dan busuk
menyeruak seakan makan sehari-hari
Dalam batas
bilik bersandur dari kasih pertalian darah
Meringkuk
bergelumul dengan belahan jiwa dan buah jati
Apa hendak
dikata orang tapi inilah kehidupan
Melangkah dalam
harap tetes tebu jatuh dari langit
Dengan bangga
mereka berujar seperti rujak eperan
Manis segar namun kebanyakan hanya asam dan bikin
mules
Dalam benak
impian melayang bagai punai yang tak berbeban
Tapi entahlah
apa memang benar ia melayang atau hanya sedang berpura-pura
Diam membisu menatap ruangan penuh masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar