Minggu, 20 September 2015

Puisi-Setitik Cahaya



Setitik Cahaya

Tempat tenang terasa saat embun akhirnya menetes
Rasa yang belum pernah keluar dari dasar jurang tumpuhan
Dalam tabir terkuak setitik cahaya
Engkau akan hilang ataukah menghilang

Pernah budak bertengger
Pada pijakan hidup bersanding dengan
Dewi berparas gugusan bintang yang dipoles
Dengan butiran pasir berlian tepat disana

Tenglah wahai perindu alam nista
Setetes air keringatku
Kan ku bayar dengan padang safana
Untuk ku sajikan pada jiwa yang tergores
Oleh padang tandus, pengharapan.

Tanpa bayang, 20/09/15

Sabtu, 19 September 2015

Puisi-Bayangan Semalam

Bayangan Semalam

Bayangan itu semakin jelas
Kecil mungil dan sangat ku kenal
Ia tapaki satu persatu tangga kebahagiaan
Tapi dengan siapakah dia?
Sosok asing yang belum pernah kulihat

Dalam hati aku cukup bahagia
Gadis berambut panjang kian dewasa
Semampai elok tanpa bersolek
Mencerca diriku sendiri

Biarlah ia bahagia diatas sebuah singgasana
Aku cukup terima menjadi rakyat jelata
Yang kian terhapus masa


                                                                                     #sebuah mimpi semalam tentang ACILTA

Puisi-Duduk di Tengkuk

Duduk Di Tengkuk
Oleh: Achmad Mukhlasin

Perdebatan akal pikiran tak terelakkan
Warna-warni gagasan melahirkan gagasan
Beranggap bahwa dunia hanya miliknya
Lain yang hanya pengikut semata

Oh dunia indahnya hanya di pelupuk saja
Tetapi arogansi selalu menyelimuti
Anak manusia berpikir tentang sama rata
Tetapi cara tak lebih dari omong belaka

Sajak-sajak mereka baca meliuk-liuk berirama
Mana keadilan, mana keadilan.. kata mereka
Sang Nafsu masing duduk ditengkuk mereka
Atas nama kebersamaan hitam jadi pujaan

Para sarjanapun punya kepala
Dikuras dan dilukiskan lewat tinta berwarna
Melahirkan sebuah dogma kata-kata
Semoga dapat berguna.


Puisi-Ibu

Ibu
Oleh: Achmad Muhlasin

Langkah itu mengantarku
Tak berkisah tentang dirinya
Terjangan hujan dan badai kau halau
Tiada tandingannya akan jasa

Jarak yang nan jauh itu
Hanya sejengkal penuh peluh dan luka
Cita citamu sungguh mulia
Kan kubayar itu semua ibu...

Ku tahu hingga hancur badan ini
Belum setara dengan pengorbananmu
Derai air mata doa selalu titi
Merangkai lantunan puji kepada waktu

Tak terlihat bukan tidak ada
Pancaran kasih itu mengalir dalam nadi
Saat aku duka engkau merasa
Saat ku gembira bibir itu tersenyum gigi

Hati sehat berkata ibu,

Ridloi anakmu...

Puisi-Kata Itu Luka

KATA ITU LUKA

Huruf demi huruf itu terangkai
Merajut rasa dari derai kata hati
Terkadang lewat kata mata hati akan terbuka
Namun tak urung berujung duka

Apa salahnya kata jika hadirnya membawa fakta
Bukan bersembunyi di balik nyali yang buta

Sebaris kata melahirkan satu kalimat
Dari pernyataan yang kadang menyayat
Tapi ingat! Jangan anggap kata itu seperti mayat
Hanya diam tanpa ada sebuah hikayat

Dunia tanpa kata adalah sebuah kehancuran

Otak penjilatpun menjadi acuan

Puisi-Do’a Lusuh

Do’a Lusuh
Derap-derap pembopong amanah
Riuh-riuh penuh cahaya kentara
Terseret dalam gelombang inersia
Yang berputar dalam pusara

Gerilya pasukan lalat merayap-rayap tuk mencari
Seonggokbunga bangkai yang tumbuh
Subur digedung penuh wakil perubahan

Ooohhh… binasalah semua
Manusia yang hidup dengan perutnya
Padahal ia tahu
Hati nurani dan day pikirnya
Telah lebur oleh rayap bertanduk napsu

Hilang biar terbang sebutir do’a untuk Tuhan

Dan untuk tangan-Nya…. Indonesia

Coretan-Kemana?

Kemana?
Bilik kamar kedamaian 14 Okt 2014
Ku telusuri jalan yang asing bagiku melangkah gontai diterpa angin pengetahuan. Berjalan dan berjalan tidak peduli tempat untuk menyandarkan punggung ini. Menunggu dan terus menunggu datangnya payung yang akan menaungi. Terasa dingin udara jalan kota merasuk dalam sumsum rumahan yang belum pernah keluar dari kandang. Malam semakin larut saat kunanti seberkas kabar basi itu. Langkahnya santai namun pasti mendekat dan mendekat dengan satu kali tepuk aku mengikuti.
Aneh, bingung, dan setengah belum menerima akan sebuah kenyataan. Malam ku lalui dengan dentingan jarum jam dinding yang menempel tepat di atasku berbaring. Satu demi satu kurangkai asa yang masih tersisa setelah seharian berjalan. Kurajut sebuah cita-cita dalam tiap-tiap sulaman itu. Kurekatkan dengan penuh hati lipat demi lipat doa.
Fajar membangunkanku dengan rayuan indah sang muadzin di masjid seberang. Ku buka mata ini dan tersadar ini bukan rumah yang biasa aku jadikan tempat berkeluh dan bergembira. Mau tidak mau kutegakkan badan lungkrah ini dengan sedikit sisa semangat semalam. Kuambil air wudlu nan dingin sedingin es. Kulangkahkan kakiku menuju masjid. Gemerisik angin yang menerpa daun-daun bambu amenambah syahdu pagi itu.
Dengan tekad membara kuteriakkan. Aku anak sukses. Akan ku kalahkan semua pesaing-pesaingku yang dengan suka rela menyerahkan hatinya untuk menghalauku. Namun jangan terlalu senang kawan, lihatlah masyarak tertindas dan terpinggirkan dari kaum kaum yang kau anggap hina. Kami bersatu kami padu dalam sebuah impian yang dituju. Guru.
Apakah yang kau katakan saat orang tertindas meraung mendendangkan suaranya. Kami salah atau kau yang buta. Buta akan pujian dan arogansi diri yang mati akan nurani, mati akan hati murni yang jauh dari iri. Ku angkat tangan tinggi tinggi ku kepalkan erat semangat ini dilanjut dengan lantunan suara perjuangan dan pengorbanan. Pangung parodi disiapkan dengan sedemikian rupa. Cemooh dan celoteh manusia kolot mulai menggema.

Matahari terasa berlari diatas semua yang kulalui sehari. Tenaga yang terfosir untuk perlawanan kusimpan baik dalam hati yang damai. Besok masih ada hari yang lebiih dijanjikan. Rencana belum terlintas dalam fikir ini. Berdoa dan mengiba adalah oabat dari segala penyakit duniawi.